DST
5:30 am. My cell alarm went off dengan pe-de-nya. Aaaaahhh… dengan mata masih setengah tertutup, sa ke washroom dan mulai berwudhu. Akhir-akhir ini kami berdua selalu dapat sholat Subuh di "ujung" alias sedikiiiiit lagi waktu subuh sudah expired. Makanya sejak minggu lalu saya setél alarm di HP dan tidak mo lagi dapat "ujung"
. Selesai wudhu, saya bangunkan si Daeng yang masih nyenyak tidur, " Honey, wake up… time to pray… we’re almost late!". Tidak sulit membangunkan David. Dan dengan mata masih tertutup, dia bilang kalo blum masuk waktu Subuh, not in 10 minutes, he says. Whaaat? Tapi ini sudah 5:30! Sebentar lagi waktu subuh ‘habis’! Sambil membuka mata (dengan malas), David meraih smartphone-nya dan memperlihatkan ke saya kalo waktu subuh sekarang masuk 5:38 dan berakhir sebelum jam 7 pagi. Masih bingung, saya melihat ke jendela. Ah, masih gelap sekali! But… but… but…
It’s Daylight Saving Time! Yup… it’s time to spring forward one hour. Pantasan komputer David di kamar kami tidak "adzan"
.
David bangkit untuk berwudhu, dan HP and our computers (mine’s in the living room) mulai mengalunkan adzan. Alhamdulillaah… setelah sholat subuh berdua, kami balik lagi tidur… nikmati hari terakhir bermalas-malasan sebelum tiba hari sibuk besok.
Jadi, sekarang beda waktu Alexandria dan Makassar pas 12 jam, dan dengan Adelaide 14.5 jam (betulkah, Kak Ina?). Ah… jadi rindu Makassar… rindu Ibu dan Ayah. Rindu Attong… rindu semuanya…
Homesick… homesick… 


April 3rd, 2006 at 1:09 pm
Kalo dari Inggris ke Makassar beda wktnya sekarang 7 jam.
Adamo skrg di UK, tiba tadi malam. Kayak mimpi ji rasanya ketemu teman2 dan keluarga dlm wkt 2 minggu ji.
Saya juga tdk begitu doyan sama konro hanya ada lemak dan tulang2 tapi daengku yg suka sekali.
Kapan ke Makassar? Mampir mi dulu di Inggris on the way there.